Angin bertiup dingin dan kesunyian semakin menjadi,menarik
kembali selimutpun jadi penghangat tubuh kurus ini,namun disaat itu kita dipaksa untuk disiplin
agar dapat bangun pagi sebelum subuh dan disana
kita di ajarkan untuk menjalankan shalat fajar sebelum menjalankan shalat subuh berjama'ah dengan
santri lain yang di imami oleh pak kyai sendiri.disaat aku sedang tidur dengan
nyenyak serentak ada yang mencabuk saya dengan sajadah,ternyata itu ABAH (pak kyai) yang selalu membangunkan para santri untuk segera berjamaah subuh.Abah jalil(panggilan pak kyai) yang nama lengkapnya Kyai Abdul Jalil adalah pemimpin dipondok,sebenarnya abah hanya meneruskan kepemimpianan kyai Bandhi yaitu mertua nya sendiri dan pendiri pondok pesantren ini yang sudah lama wafat.
akupun bangun
dengan terpaksa dan masih kedinginan disaat tersentuh air untuk melakukan wudhu
,namun dengan cepat aku bergegas pake sarung dan peci agar tidak ketinggalan
jama'ah subuh ,karena bagi santri siapa saja yang tidak menjalankan jama'ah subuh
maka dia akan dikenai takziran(hukuman
bagi santri) ,dihukum membersihkan kamar mandi dan tempat wundhu dipondok meski bukan tugas piketnya pada saat
itu.
setelah selesai melakukan jamaah subuh para santri diajak
pak kyai untuk membiasakan diri berdzikir kepada Allah,setalah selesai dzikir
berjamaah para santri diberi waktu 30menit untuk mempersiapkan diri untuk ngaji
di rumah pak kyai, seperti hafalan qur'an bagi yang menghafakan qur'an
,memaknai kitab kuning bagi yang belajar kitab dan melancarkan membaca
al-qur'an seperti yang saya pelajari pada saat itu.
aku adalah salah satu santri baru yang
masuk pondok pesantren untuk belajar mendalami agama,dan dipondok pesantren ini aku mendapatkan pengalaman yang tidak pernah aku temukan ketika aku berada dirumah,sekolah dan madrasah.baru beberapa hari aku dipondok pesantren sudah dapat merasakan bagaimana kehidupan bermasyarakat yang baik dan benar karena dipondok ini aku diajarkan untuk ber-adab dalam melakukan segala hal.
pagi itu sperti biasa didepan mushola aku membaca Ayat Al-qur'an yang akan saya bacakan nanti ketika ngaji dengan pak kyai,udara dingin berhembus perlahan seakan membisikan keindahan langit senja tampak cerah secerah hatiku saat itu .
tak lama kemudian datang Dicky teman sekamarku
''kang dul ayo ngajine dimulai wes jam enem ki''
''oke siap''seruku
lha kang kang Salim mbek Muzi neng ndi Dick ?tanyaku
''kang Salim gek ngeterke Tihul mangkat sekolah nek kang muzi iseh neng kamar gek apalan kitab''
kang Salim adalah salah satu santri yang membimbing para santri baru agar dapat beradaptasi dilingkungan pondok dan dia juga senior yang cukup lama dipondok ini,kang salim udah hampir 7tahun mengabdi dengan bekerja membantu pak kyai dipondok ini dan sebagai bayarannya kang salim di berikan jatah makan setiap hari nya,tidak seperti aku yang setiap hari masak sendiri untuk bisa makan dipondok.nah kalau Muzi adalah tetanggaku yang rumahnya dekat dengan rumah bapakku.
''yo wes dick ayo ngajine dimulai ''
aku dan dicky berangkat menuju dalem(rumah pak kyai) dan disana sudah ada mbak-mbak santriwati yang sudah menata dampar(meja kecil panjang yang ada dipesantren) dan ngajipun dimulai dengan membaca sa'altu bersama-sama.tak lama kemudian datang muzi dan kang salim menyusul dan langsung ikut membaca sa'altu.setalah selesai membaca sa'altu abah(pak kyai)datang lebih cepat dari biasanya,disaat aku mau warahan(belajar dengan pak kyai) datang kang Kamisan yang telat karena bangun kesiangan,ketika itu juga abah menanyai kang kamisan.
''kok gek nembe mangkat san"
''kulo tangi kawanan bah''jawab kang kamisan
''nah karang awakmu telat mangkate,ngadek neng pojok karo wingi apalane diapalke''
''njeh bah''
setelah abah selesai menghukum kang kamisan akupun melanjutkan dheresanku dihadapan abah,dan terus membaca sampai abah belum menyuruh berhenti,biasa ketika aku salah membaca beberapa ayat abah langsung memberiakan teguran,supaya aku dapat memperbaiki kesalahan membacaku.
setelah aku selesai,abah memanggil kang kamisan yang dari tadi beridiri dipojokan sambil menghafalkan hafalan kitabnya dan disuruh untuk memijit punggung abah,
bersamaan dengan giliran selanjutnya yaitu dicky yang pada saat itu juga masih belajar membaca Al-qur'an sama dengan saya,beda nya dicky sudah sampai juz 9 sedangkan aku juz 1 aja belum selasai.
setelah dicky selesai warahan dengan abah,
selanjutnya muzi yang sudah belajar kitab dan katham ngaji Al-qur'an,muzi membaca kitab beserta makna ayat tersebut dan ketika muzi salah abah memberikan makna yang benar tentang ayat yang dibacakan muzi,dan abah memberi muzi untuk memaknai bab selanjutnya besok,
begitu muzi selesai dilanjut dengan kang salim yang pada saat itu juga belajar memaknai kitab sama seperti muzi,bedanya kang salim dengan muzi dalam memaknai kitab disini kang salim lebih senior dan lebih jago dalam memaknai kitab,
setelah kang salim selesai warahan abah menyuruh kang salim untuk mencangkul disawah yang letaknya tak begitu jauh dari perdesaan.selain kang salim semuanya tetap masih ditempat untuk menyelesaikan ngajinya.
kini lanjut ke mbak Aini yang pada saat itu menghafalkan kitab nahwu
,mbak aini adalah salah satu bidadari dipondok.
dia memang wanita cantik anggun dan lugu namun bersifat tegas dan juga pintar dalam hafal-menghafal setiap pelajaran yang diberikan abah,dia juga sudah belajar menghafal ayat-ayat Al-qur'an sebanyak 19juz pada saat itu.menjadi idaman para kang-kang dipondok.
kemudian abah menanyakan kepada mbak aini beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan nahwu,namun ternyata pertanyaan itu belum dijawab mbk aini karena belum sepenuhnya menghafal atau memahami bab tersebut,dan abah menyuruh giliran warahan selanjutnya yaitu mbak mutmainah bidadari cantik yang pernah membuat aku benar-benar jatuh hati kepadanya,dialah wanita berparas cantik berhati lembut dengan senyum indah membuat aku tak dapat berbohong bahwa aku mencintainya.
padahal mbak mutmainah ini biasanya tidak pernah ikut ngaji pagi,seharusnya dia ngajinya nanti siang untuk setor hafalan Al-qur'an yang sudah menjadi pilihannya sejak pertama mondok dipesantren,di ngaji pagi ini mbak mutmainah belajar mendalami ilmu kitabnya yang sudah jarang dipelajari lantas sibuk menghafalkan Al-qur'an.
setelah abah selesai mengajar mbak mutmainah,abah memanggil kotul yang juga santriwati sekampung dengan saya,dia juga belajar menghafal Al-qur'an,karena yang terakhir untuk warahan dengan abah.
sebelum selesai ngaji abah memberikan perintah kepada kang-kang untuk menyusul kang salim disawah agar ada yang membantu menyelesaikan pekerjaan sawah bagi yang tidak ada kegiatan setalah ngaji.dan ngaji pun diakhiri setalah kotul selesai warahan.
dan kang kamisan masih tetap memijit punggung abah sampe para santri menyelesaikan ngajinya agara dapat segera kembali kekamarnya masing-masing.
''kang dol bar iki sampeyan ono kegiatan opo ?" tanya dicky
"aku meh masak gawe sarapan dick,lha pye ?"
"sakjene meh tak jak neng sawah nusul kang salim"
"yo nusul engko nak aku wes rampung sarapan"
"yo wes kang,nak ngono ak tak sarapan sek neng gene mak pah"
karena dipondok aku harus masak sendiri,jadi setiap selesai ngaji pagi aku belanja diwarung dan memaksa untuk sarapan, berbeda dengan dicky yang makannya sudah dimasakan sama mak pah dan setiap bulannya harus bayar untuk biaya masakan tersebut.
disaat aku mau masak didapur muzi datang.
"lek mulai sak niki masak bareng pripon?"
"ben masak'e rodok ringan "lanjut muzi
"yo okey wae zi "
"lha ki sampeyan meh masak opo ?"
"meh masak mie masak mie goreng zi,kebetulan neng lemari aku iseh ono mie goreng "
"yo wes aku seng tak masak sego,sampeyan seng masak mie ya"
"okey awakmu sedak dhedhek geni yaa,aku tak neng warung delok tuku bumbu"
"oke siap" jawab muzi
pertama kali aku dipondok belum ada kompor,jadi kita harus mencari kayu bakar untuk membuat api pada saat memasak,dan biasa kita mencari kayu bakar hutan atau disekitar kebun milik orang perdesaan.dan kebetulan persediaan kayu pada saat itu masih banyak,
ketika aku mau beranjak ke warung,tiba-tiba kang kamisan datang menyapa saya.
"badhe ten pundi kang dol?''
"badhe belonjo neng warung kang kamisan"
"ayo bareng kang,aku meh tuku terong"
terong adalah makanan favorit kang kamisan,tapi ada yang aneh dengan cara masak terong nya,ketika masak terong kang kamisan tidak mau masakannya dikasih moto.
katanya dia sedang menghidari makanan yang bernyawa,dan karena moto terbuat dari ikan asin dan itu bernyawa jadi dia tidak mau makan makanan yang mengandung moto.
setelah selesai kemabli dari warung muzi sudah menyalakan api dengan kayu bakar dan menyiapkan beras untuk dimasak,sedangkan aku langsung menyiapkan bumbu yang baru aku beli dan mie yang akan dimasak,setelah semuanya siap.
aku menyuci wajan yang akan digunakan untuk menggoreng mie.
disamping muzi sedang memasak, nasi kang kamisan serius dalam membuat bumbu untuk memasak terong yang sudah dibelinya diwarung tadi bersamaku.
setelah beberapa jam menyibukan memasak,akhirnya matang juga nasi dan lauknya mie goreng masakanku dan dihari yang mulai siang itu aku baru bisa sarapan.disaat sudah hampir selesai makan dicky datang menyapa dan sudah siap untuk mengajakku kesawah menyusul kang salim.
ketika sampai disawah angin semilir kencang menyejukkan hari pertamaku disawah,sebelum membantu kang salim aku dan dicky duduk santai digubuk sambil menyulut rokok djarum super aroma favorit saya,sambil ngebul dan menikmati sejuknya angin disawah aku jadi teringat dengan ibuku yang dirumah.
ditengah lamunanku datang mbak-mbak menyapaku dengan salam dan senyuman tercantiknya yaitu mbak mutmainah,tertegun aku tanpa sadar bahwa senyumannya telah melumpuhkan hatiku saat itu
akupun bangun dengan terpaksa dan masih kedinginan disaat tersentuh air untuk melakukan wudhu ,namun dengan cepat aku bergegas pake sarung dan peci agar tidak ketinggalan jama'ah subuh ,karena bagi santri siapa saja yang tidak menjalankan jama'ah subuh maka dia akan dikenai takziran(hukuman bagi santri) ,dihukum membersihkan kamar mandi dan tempat wundhu dipondok meski bukan tugas piketnya pada saat itu.
aku adalah salah satu santri baru yang masuk pondok pesantren untuk belajar mendalami agama,dan dipondok pesantren ini aku mendapatkan pengalaman yang tidak pernah aku temukan ketika aku berada dirumah,sekolah dan madrasah.baru beberapa hari aku dipondok pesantren sudah dapat merasakan bagaimana kehidupan bermasyarakat yang baik dan benar karena dipondok ini aku diajarkan untuk ber-adab dalam melakukan segala hal.
''kang dul ayo ngajine dimulai wes jam enem ki''
kang Salim adalah salah satu santri yang membimbing para santri baru agar dapat beradaptasi dilingkungan pondok dan dia juga senior yang cukup lama dipondok ini,kang salim udah hampir 7tahun mengabdi dengan bekerja membantu pak kyai dipondok ini dan sebagai bayarannya kang salim di berikan jatah makan setiap hari nya,tidak seperti aku yang setiap hari masak sendiri untuk bisa makan dipondok.nah kalau Muzi adalah tetanggaku yang rumahnya dekat dengan rumah bapakku.
''yo wes dick ayo ngajine dimulai ''
aku dan dicky berangkat menuju dalem(rumah pak kyai) dan disana sudah ada mbak-mbak santriwati yang sudah menata dampar(meja kecil panjang yang ada dipesantren) dan ngajipun dimulai dengan membaca sa'altu bersama-sama.tak lama kemudian datang muzi dan kang salim menyusul dan langsung ikut membaca sa'altu.setalah selesai membaca sa'altu abah(pak kyai)datang lebih cepat dari biasanya,disaat aku mau warahan(belajar dengan pak kyai) datang kang Kamisan yang telat karena bangun kesiangan,ketika itu juga abah menanyai kang kamisan.
''njeh bah''
setelah aku selesai,abah memanggil kang kamisan yang dari tadi beridiri dipojokan sambil menghafalkan hafalan kitabnya dan disuruh untuk memijit punggung abah,
bersamaan dengan giliran selanjutnya yaitu dicky yang pada saat itu juga masih belajar membaca Al-qur'an sama dengan saya,beda nya dicky sudah sampai juz 9 sedangkan aku juz 1 aja belum selasai.
setelah dicky selesai warahan dengan abah,
selanjutnya muzi yang sudah belajar kitab dan katham ngaji Al-qur'an,muzi membaca kitab beserta makna ayat tersebut dan ketika muzi salah abah memberikan makna yang benar tentang ayat yang dibacakan muzi,dan abah memberi muzi untuk memaknai bab selanjutnya besok,
begitu muzi selesai dilanjut dengan kang salim yang pada saat itu juga belajar memaknai kitab sama seperti muzi,bedanya kang salim dengan muzi dalam memaknai kitab disini kang salim lebih senior dan lebih jago dalam memaknai kitab,
setelah kang salim selesai warahan abah menyuruh kang salim untuk mencangkul disawah yang letaknya tak begitu jauh dari perdesaan.selain kang salim semuanya tetap masih ditempat untuk menyelesaikan ngajinya.
kini lanjut ke mbak Aini yang pada saat itu menghafalkan kitab nahwu
,mbak aini adalah salah satu bidadari dipondok.
dia memang wanita cantik anggun dan lugu namun bersifat tegas dan juga pintar dalam hafal-menghafal setiap pelajaran yang diberikan abah,dia juga sudah belajar menghafal ayat-ayat Al-qur'an sebanyak 19juz pada saat itu.menjadi idaman para kang-kang dipondok.
kemudian abah menanyakan kepada mbak aini beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan nahwu,namun ternyata pertanyaan itu belum dijawab mbk aini karena belum sepenuhnya menghafal atau memahami bab tersebut,dan abah menyuruh giliran warahan selanjutnya yaitu mbak mutmainah bidadari cantik yang pernah membuat aku benar-benar jatuh hati kepadanya,dialah wanita berparas cantik berhati lembut dengan senyum indah membuat aku tak dapat berbohong bahwa aku mencintainya.
padahal mbak mutmainah ini biasanya tidak pernah ikut ngaji pagi,seharusnya dia ngajinya nanti siang untuk setor hafalan Al-qur'an yang sudah menjadi pilihannya sejak pertama mondok dipesantren,di ngaji pagi ini mbak mutmainah belajar mendalami ilmu kitabnya yang sudah jarang dipelajari lantas sibuk menghafalkan Al-qur'an.
setelah abah selesai mengajar mbak mutmainah,abah memanggil kotul yang juga santriwati sekampung dengan saya,dia juga belajar menghafal Al-qur'an,karena yang terakhir untuk warahan dengan abah.
sebelum selesai ngaji abah memberikan perintah kepada kang-kang untuk menyusul kang salim disawah agar ada yang membantu menyelesaikan pekerjaan sawah bagi yang tidak ada kegiatan setalah ngaji.dan ngaji pun diakhiri setalah kotul selesai warahan.
dan kang kamisan masih tetap memijit punggung abah sampe para santri menyelesaikan ngajinya agara dapat segera kembali kekamarnya masing-masing.
''kang dol bar iki sampeyan ono kegiatan opo ?" tanya dicky
"aku meh masak gawe sarapan dick,lha pye ?"
"sakjene meh tak jak neng sawah nusul kang salim"
"yo nusul engko nak aku wes rampung sarapan"
"yo wes kang,nak ngono ak tak sarapan sek neng gene mak pah"
karena dipondok aku harus masak sendiri,jadi setiap selesai ngaji pagi aku belanja diwarung dan memaksa untuk sarapan, berbeda dengan dicky yang makannya sudah dimasakan sama mak pah dan setiap bulannya harus bayar untuk biaya masakan tersebut.
disaat aku mau masak didapur muzi datang.
"lek mulai sak niki masak bareng pripon?"
"ben masak'e rodok ringan "lanjut muzi
"yo okey wae zi "
"lha ki sampeyan meh masak opo ?"
"meh masak mie masak mie goreng zi,kebetulan neng lemari aku iseh ono mie goreng "
"yo wes aku seng tak masak sego,sampeyan seng masak mie ya"
"okey awakmu sedak dhedhek geni yaa,aku tak neng warung delok tuku bumbu"
"oke siap" jawab muzi
pertama kali aku dipondok belum ada kompor,jadi kita harus mencari kayu bakar untuk membuat api pada saat memasak,dan biasa kita mencari kayu bakar hutan atau disekitar kebun milik orang perdesaan.dan kebetulan persediaan kayu pada saat itu masih banyak,
ketika aku mau beranjak ke warung,tiba-tiba kang kamisan datang menyapa saya.
"badhe ten pundi kang dol?''
"badhe belonjo neng warung kang kamisan"
"ayo bareng kang,aku meh tuku terong"
terong adalah makanan favorit kang kamisan,tapi ada yang aneh dengan cara masak terong nya,ketika masak terong kang kamisan tidak mau masakannya dikasih moto.
katanya dia sedang menghidari makanan yang bernyawa,dan karena moto terbuat dari ikan asin dan itu bernyawa jadi dia tidak mau makan makanan yang mengandung moto.
setelah selesai kemabli dari warung muzi sudah menyalakan api dengan kayu bakar dan menyiapkan beras untuk dimasak,sedangkan aku langsung menyiapkan bumbu yang baru aku beli dan mie yang akan dimasak,setelah semuanya siap.
aku menyuci wajan yang akan digunakan untuk menggoreng mie.
disamping muzi sedang memasak, nasi kang kamisan serius dalam membuat bumbu untuk memasak terong yang sudah dibelinya diwarung tadi bersamaku.
setelah beberapa jam menyibukan memasak,akhirnya matang juga nasi dan lauknya mie goreng masakanku dan dihari yang mulai siang itu aku baru bisa sarapan.disaat sudah hampir selesai makan dicky datang menyapa dan sudah siap untuk mengajakku kesawah menyusul kang salim.
ketika sampai disawah angin semilir kencang menyejukkan hari pertamaku disawah,sebelum membantu kang salim aku dan dicky duduk santai digubuk sambil menyulut rokok djarum super aroma favorit saya,sambil ngebul dan menikmati sejuknya angin disawah aku jadi teringat dengan ibuku yang dirumah.
ditengah lamunanku datang mbak-mbak menyapaku dengan salam dan senyuman tercantiknya yaitu mbak mutmainah,tertegun aku tanpa sadar bahwa senyumannya telah melumpuhkan hatiku saat itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar